Bursa tiket pesawat.... paling murah....
Dimulai dengan Bissmillaah....


SELAMAT DATANG ... ... ...

Kami melayani:
- Pemesanan tiket pesawat secara Online
- Menerima pendaftaran untuk menjadi agen penjualan tiket pesawat & pulsa elektrik
Tampilkan postingan dengan label MERPATI News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MERPATI News. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Juli 2012

Promo Merpati

 
Dalam rangka memperingati HUT RI ke 67 Merpati Nusantara memberikan promo!

Semua Rute!
Periode Beli 01 Agustus - 17 Agustus 2012
Periode Terbang 10 September - 10 Oktober 2012

Mulai dari IDR 170.000


*persediaan terbatas

Selasa, 10 Januari 2012

Daftar Maskapai Paling Sering Telat, Lion Air 'Juara' Pertama


Kementerian Perhubungan mengeluarkan daftar maskapai penerbangan komersil penerbangan seringkali terlambat alias delay dari jadwal penerbangan yang seharusnya. Dari enam maskapai penerbangan utama, maskapai mana yang paling sering telat?

Berdasarkan data Direktorat Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara yang diperoleh detikFinance, Senin (9/1/2012), pada periode Januari-November 2011 maskapai yang paling sering terlambat adalah Lion Air dengan angka ketepatan waktu penerbangan (on time performance/OTP) rata-rata sebesar 66,78%.

Setelah Lion Air, sepanjang Januari-November 2011 maskapai yang paling sering terlambat penerbangannya adalah Merpati Airlines dengan angka ketepatan waktu 68,43%.

Kemudian diikuti dengan Sriwijaya Air dengan angka ketepatan waktu 69,87%, lalu Indonesia Air Asia dengan angka ketepatan waktu 71,09%, dan Batavia Air dengan angka ketepatan waktu 72,08%. Dalam data tersebut, maskapai yang paling tepat waktu adalah Garuda Indonesia dengan angka ketepatan waktu rata-rata teratas yakni 84,36%.

Selain itu, Direktorat Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara juga mengeluarkan data maskapai yang paling sering melakukan pembatalan penerbangan. Selama periode Januari-November 2011 lalu maskapai yang paling sering membatalkan penerbangannya adalah:

1. Merpati Nusantara Airlines dengan angka rata-rata 9,21% penerbangannya dibatalkan.
2. Sriwijaya Air (4,11%)
3. Garuda Indonesia (0,82%),
4. Lion Air (0,73%),
5. Batavia Air (0,54%)
6. Air Asia (0,16%).


Seperti diketahui, untuk mengurangi delay atau keterlambatan penerbangan, Kementerian Perhubungan telah memberlakukan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No.77/2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut, diantaranya soal kompensasi tunai bagi maskapai yang delay lebih dari 4 jam kepada setiap penumpangnya.

(detiknews,)

Merpati Dideadline Setahun


 Perusahaan penerbangan nasional plat merah, PT Merpati Nusantara Airlines (MNA), dideadline setahun untuk ditutup atau terus beroperasi. Asal tidak rugi secara operasional, Merpati dijamin tidak akan ditutup. Namun, jika selama setahun ke depan mengalami kerugian, maka nama Merpati akan tinggal kenangan

Penegasan itu diungkapkan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, kepada wartawan di kediamannya kawasan Ketintang Baru Surabaya, Minggu (8/1). Dahlan menceritakan terkait keinginan karyawan Merpati yang memilih harus kerja keras memperpanjang hidup maskapai plat merah itu.

Menanggapi keinginan karyawan itu, Dahlan juga meminta hasil kerja keras karyawan sebagai bukti Merpati masih bisa hidup. "Pokoknya secara operasional tidak rugi," kata Dahlan.

Kalau masih rugi, lanjutnya, asal bukan di segi operasional. Misalnya bunga yang masih tinggi ditambah beban masa lalu itu masih bisa diterima. Lagipula, dana pemerintah sebesar Rp 561 miliar yang digunakan untuk menginjeksi Merpati belum tentu berhasil.

Bahkan, dalam kesempatan beberapa waktu lalu, Dahlan sempat mengutarakan, dana sebesar itu lebih baik dimanfaatkan untuk membeli lahan sawit. Pembelian lahan sawit dinilai lebih berprospek ketimbang kelangsungan hidup Merpati. "Nggak ada jaminan, dengan uang itu merpati bisa hidup," terangnya.

Kalau setiap karyawan Merpati mendapat lahan sawit 2 hektar saja, lanjutnya, itu bisa menjadi tolok ukur kesejahteraan karyawan. "Tapi mereka (karyawan, Red) yakin, dengan kerja keras Merpati bisa hidup. Ya sudah, kita tinggal menunggu hasilnya setahun ke depan," pungkasnya.

Sebelumnya Menteri BUMN Dahlan sempat mengeluarkan statemen mengejutkan dengan mengusulkan untuk menutup Merpati. Pasalnya, menurut Dahlan, setelah disuntik dana oleh pemerintah sampai kini tidak banyak perubahan.

Usulan itu juga disampaikan Dahlan dalam rapat bersama manajemen dan komisaris maskapai plat merah itu akhir pekan lalu. Komisaris Utama Merpati M. Said Didu yang juga hadir dalam rapat tersebut mengatakan, manajemen masih percaya Merpati bisa berkembang.

Seperti diketahui, sampai saat ini PT Merpati Nusantara Airlines masih terlilit berbagai utang. Maskapai plat merah tersebut memang diakui masih mengalami 'pendarahan' di sektor keuangannya.

Terakhir problem serius muncul saat Pertamina menghentikan pasokan avtur ke Merpati di Bandara Juanda Surabaya dan Bandara Hasanuddin Makassar. Pertamina  minta manajemen Merpati segera menyelesaikan utangnya dulu sebelum avtur dikucurkan kembali. Jumlah utang Merpati ke Pertamina dari 2006 sampai sekarang mencapai Rp 550 miliar.

Saat itu Komisaris Utama Merpati Said Didu, mengakui penghentian avtur tersebut adalah dampak dari ketidaksehatan finansial Merpati yang belum diselesaikan secara tuntas. Mantan Sekretaris Kementerian BUMN ini mengatakan, harus ada langkah dari pemegang saham untuk menyelesaikan utang-utang Merpati tersebut. "Langkah yang dilakukan adalah melalui suntikan modal dan penyelesaian utang ke BUMN dan utang Merpati ke pemerintah," ujarnya.

Tampaknya tak hanya ke Pertamina, Merpati juga mempunyai utang ke Garuda sebesar Rp 330 miliar. Krisis keuangan yang dialami maspakai penerbangan PT Merpati Nusantara Airlines dinilai telah mencapai titik kritis.

Bukan itu saja, perusahaan ini juga tidak sehat dalam strategi perusahaan. "Sudah saatnya dipertanyakan masihkah keberadaan Merpati dibutuhkan," kata Analis penerbangan, Alvin Lie, belum lama ini.

Alvin mengatakan, kesulitan keuangan Merpati merupakan penyakit menahun perusahaan ini. Merpati telah beberapa kali mendapat bantuan dana dari pemerintah. Pada 2010, setengah dari permintaan Merpati senilai Rp 600 miliar disetujui pemerintah.

Tahun sebelumnya, Merpati juga memperoleh kucuran anggaran Rp 450 miliar dari Rp 1,1 triliun yang diajukan. "Suntikan itu habis digunakan membayar utang maupun gaji pegawai," kata Alvin. Paruh pertama 2011, Merpati juga mendapat tambahan dana lebih dari Rp 500 miliar melalui APBN Perubahan. Saat ini, dana itu belum dikucurkan pemerintah melalui Kementerian Keuangan.

Dari aspek manajemen perusahaan, Alvin berpendapat, Merpati tidak mampu membeli pesawat baru. Solusinya, manajemen menempuh jalur sewa pesawat. Tapi upaya itu dinilai Alvin mendapat berbagai kendala. Mantan legislator DPR RI dari F PAN ini mengatakan, kemampuan keuangan memojokkan Merpati sehingga tak punya pilihan lain dalam pengadaan pesawat.

Merpati hanya bisa melakukan pengadaan pesawat MA-60 buatan Cina yang memberi sistem pembayaran amat ringan dan kompetitif. Alvin mengatakan, tahun lalu, Merpati sudah memperoleh keringanan utang melalui restrukturisasi utang oleh lessor. dtf, wsp

Utang Merpati

Pertamina                  Rp 550 miliar.

Garuda                       Rp 330 miliar

Armada Merpati per 1 Januari 2011

•             1 Boeing 737-500

•             2 Boeing 737-400 (Merpati akan menerima 6 Boeing 737-400 bekas Garuda)

•             1 Boeing 737-200

•             7 Boeing 737-300 (Merpati akan menerima 4 Boeing 737-300 bekas Indonesia AirAsia)

•             13 Xian MA60  (2 pesawat baru mengalami kecelakaan)

•             2 Fokker-100 (PK-MJC,PK-MJD)

•             10 CASA C 212

•             8 DHC-6 (akan digantikan oleh N-219)

(Surabaya Post Online, )
http://infopenerbangan.com/12/01/10/merpati-dideadline-setahun

Kamis, 07 April 2011

Merpati Tetap Tambah 7 Pesawat Boeing 737

>Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang jasa penerbangan, PT Merpati Nusantara Airlines (Persero), berencana menambah pesawat tipe Boeing 737 seri klasik pada tahun ini. “Kami akan menambah sekitar tujuh pesawat tersebut pada tahun ini,” kata Direktur Utama Merpati Sardjono Jhony Tjitrokusumo, , Kamis (7/4).Sebelumnya, Kementerian Perhubungan RI meminta sejumlah maskapai penerbangan memeriksa kondisi pesawat Boeing 737 seri klasik yang dioperasikan. Instruksi tersebut muncul pasca terjadinya retakan pada atap pesawat tipe tersebut milik maskapai Southwest Airlines beberapa waktu lalu. Keretakan tersebut diduga dipicu oleh tekanan udara di kabin setelah ribuan kali lepas landas.

Insiden tersebut mendorong Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) meminta pemeriksaan pada pesawat tersebut. Pengumuman dari FAA tersebut berlaku bagi 175 pesawat di seluruh dunia, termasuk 80 pesawat yang berbasis di Amerika Serikat.

Walau ada permasalahan tersebut, Merpati belum berencana menunda penambahan pesawat. Menurut Jhony, kondisi pesawat tergantung pada perawatan yang dilakukan masing-masing maskapai. “Dilihat juga pesawat tersebut buatan tahun berapa. Apakah mereka juga sudah melakukan pemeriksaan rutin, dan lainnya,” kata Jhony.

Menurutnya, Indonesia memiliki regulasi jelas bagi maskapai yang mau melakukan pengadaan pesawat. Pesawat yang sudah berumur di atas 20 tahun tidak boleh dimasukkan ke Indonesia. Jika usia pesawat belum sampai 20 tahun, maka boleh dimasukkan dan dipakai hingga berusia 35 tahun.

Sementara, pesawat yang rencananya didatangkan Merpati rata-rata buatan tahun 1995, dan tergolong pesawat berumur muda di dunia penerbangan. Pesawat tersebut bertipe Boeing 737 Classic Series (300/400/500) dan diperoleh Merpati melalui sewa.

Pasca keluarnya instruksi dari Kementerian Perhubungan, Merpati juga langsung melakukan pemeriksaan terhadap pesawat Boeing 737 yang dimiliki perusahaan. Hingga saat ini, tercatat ada 11 pesawat Boeing 737 seri klasik yang dimiliki Merpati. Sebanyak 9 pesawat dioperasikan, dan 2 pesawat sedang 'grounded'. “Saat ini, beberapa pesawat sudah dilakukan pemeriksaan dan kami belum menemukan kerusakan,” kata Jhony.

http://infopenerbangan.com/berita/nasional/3091-merpati-tetap-tambah-7-pesawat-boeing-737-.html