Kementerian Perhubungan mengeluarkan daftar maskapai penerbangan
komersil penerbangan seringkali terlambat alias delay dari jadwal
penerbangan yang seharusnya. Dari enam maskapai penerbangan utama,
maskapai mana yang paling sering telat?
Berdasarkan data
Direktorat Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara yang diperoleh
detikFinance, Senin (9/1/2012), pada periode Januari-November 2011
maskapai yang paling sering terlambat adalah Lion Air dengan angka
ketepatan waktu penerbangan (on time performance/OTP) rata-rata sebesar
66,78%.
Setelah Lion Air, sepanjang Januari-November 2011
maskapai yang paling sering terlambat penerbangannya adalah Merpati
Airlines dengan angka ketepatan waktu 68,43%.
Kemudian diikuti
dengan Sriwijaya Air dengan angka ketepatan waktu 69,87%, lalu Indonesia
Air Asia dengan angka ketepatan waktu 71,09%, dan Batavia Air dengan
angka ketepatan waktu 72,08%. Dalam data tersebut, maskapai yang paling
tepat waktu adalah Garuda Indonesia dengan angka ketepatan waktu
rata-rata teratas yakni 84,36%.
Selain itu, Direktorat Angkutan
Udara Ditjen Perhubungan Udara juga mengeluarkan data maskapai yang
paling sering melakukan pembatalan penerbangan. Selama periode
Januari-November 2011 lalu maskapai yang paling sering membatalkan
penerbangannya adalah:
1. Merpati Nusantara Airlines dengan angka rata-rata 9,21% penerbangannya dibatalkan. 2. Sriwijaya Air (4,11%) 3. Garuda Indonesia (0,82%), 4. Lion Air (0,73%), 5. Batavia Air (0,54%) 6. Air Asia (0,16%).
Seperti
diketahui, untuk mengurangi delay atau keterlambatan penerbangan,
Kementerian Perhubungan telah memberlakukan Peraturan Menteri
Perhubungan (Permenhub) No.77/2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut,
diantaranya soal kompensasi tunai bagi maskapai yang delay lebih dari 4
jam kepada setiap penumpangnya.
Perusahaan penerbangan nasional plat merah, PT Merpati Nusantara
Airlines (MNA), dideadline setahun untuk ditutup atau terus beroperasi.
Asal tidak rugi secara operasional, Merpati dijamin tidak akan ditutup.
Namun, jika selama setahun ke depan mengalami kerugian, maka nama
Merpati akan tinggal kenangan
Penegasan itu diungkapkan Menteri
BUMN, Dahlan Iskan, kepada wartawan di kediamannya kawasan Ketintang
Baru Surabaya, Minggu (8/1). Dahlan menceritakan terkait keinginan
karyawan Merpati yang memilih harus kerja keras memperpanjang hidup
maskapai plat merah itu.
Menanggapi keinginan karyawan itu,
Dahlan juga meminta hasil kerja keras karyawan sebagai bukti Merpati
masih bisa hidup. "Pokoknya secara operasional tidak rugi," kata Dahlan.
Kalau
masih rugi, lanjutnya, asal bukan di segi operasional. Misalnya bunga
yang masih tinggi ditambah beban masa lalu itu masih bisa diterima.
Lagipula, dana pemerintah sebesar Rp 561 miliar yang digunakan untuk
menginjeksi Merpati belum tentu berhasil.
Bahkan, dalam
kesempatan beberapa waktu lalu, Dahlan sempat mengutarakan, dana sebesar
itu lebih baik dimanfaatkan untuk membeli lahan sawit. Pembelian lahan
sawit dinilai lebih berprospek ketimbang kelangsungan hidup Merpati.
"Nggak ada jaminan, dengan uang itu merpati bisa hidup," terangnya.
Kalau
setiap karyawan Merpati mendapat lahan sawit 2 hektar saja, lanjutnya,
itu bisa menjadi tolok ukur kesejahteraan karyawan. "Tapi mereka
(karyawan, Red) yakin, dengan kerja keras Merpati bisa hidup. Ya sudah,
kita tinggal menunggu hasilnya setahun ke depan," pungkasnya.
Sebelumnya
Menteri BUMN Dahlan sempat mengeluarkan statemen mengejutkan dengan
mengusulkan untuk menutup Merpati. Pasalnya, menurut Dahlan, setelah
disuntik dana oleh pemerintah sampai kini tidak banyak perubahan.
Usulan
itu juga disampaikan Dahlan dalam rapat bersama manajemen dan komisaris
maskapai plat merah itu akhir pekan lalu. Komisaris Utama Merpati M.
Said Didu yang juga hadir dalam rapat tersebut mengatakan, manajemen
masih percaya Merpati bisa berkembang.
Seperti diketahui, sampai
saat ini PT Merpati Nusantara Airlines masih terlilit berbagai utang.
Maskapai plat merah tersebut memang diakui masih mengalami 'pendarahan'
di sektor keuangannya.
Terakhir problem serius muncul saat
Pertamina menghentikan pasokan avtur ke Merpati di Bandara Juanda
Surabaya dan Bandara Hasanuddin Makassar. Pertamina minta manajemen
Merpati segera menyelesaikan utangnya dulu sebelum avtur dikucurkan
kembali. Jumlah utang Merpati ke Pertamina dari 2006 sampai sekarang
mencapai Rp 550 miliar.
Saat itu Komisaris Utama Merpati Said
Didu, mengakui penghentian avtur tersebut adalah dampak dari
ketidaksehatan finansial Merpati yang belum diselesaikan secara tuntas.
Mantan Sekretaris Kementerian BUMN ini mengatakan, harus ada langkah
dari pemegang saham untuk menyelesaikan utang-utang Merpati tersebut.
"Langkah yang dilakukan adalah melalui suntikan modal dan penyelesaian
utang ke BUMN dan utang Merpati ke pemerintah," ujarnya.
Tampaknya
tak hanya ke Pertamina, Merpati juga mempunyai utang ke Garuda sebesar
Rp 330 miliar. Krisis keuangan yang dialami maspakai penerbangan PT
Merpati Nusantara Airlines dinilai telah mencapai titik kritis.
Bukan
itu saja, perusahaan ini juga tidak sehat dalam strategi perusahaan.
"Sudah saatnya dipertanyakan masihkah keberadaan Merpati dibutuhkan,"
kata Analis penerbangan, Alvin Lie, belum lama ini.
Alvin
mengatakan, kesulitan keuangan Merpati merupakan penyakit menahun
perusahaan ini. Merpati telah beberapa kali mendapat bantuan dana dari
pemerintah. Pada 2010, setengah dari permintaan Merpati senilai Rp 600
miliar disetujui pemerintah.
Tahun sebelumnya, Merpati juga
memperoleh kucuran anggaran Rp 450 miliar dari Rp 1,1 triliun yang
diajukan. "Suntikan itu habis digunakan membayar utang maupun gaji
pegawai," kata Alvin. Paruh pertama 2011, Merpati juga mendapat tambahan
dana lebih dari Rp 500 miliar melalui APBN Perubahan. Saat ini, dana
itu belum dikucurkan pemerintah melalui Kementerian Keuangan.
Dari
aspek manajemen perusahaan, Alvin berpendapat, Merpati tidak mampu
membeli pesawat baru. Solusinya, manajemen menempuh jalur sewa pesawat.
Tapi upaya itu dinilai Alvin mendapat berbagai kendala. Mantan
legislator DPR RI dari F PAN ini mengatakan, kemampuan keuangan
memojokkan Merpati sehingga tak punya pilihan lain dalam pengadaan
pesawat.
Merpati hanya bisa melakukan pengadaan pesawat MA-60
buatan Cina yang memberi sistem pembayaran amat ringan dan kompetitif.
Alvin mengatakan, tahun lalu, Merpati sudah memperoleh keringanan utang
melalui restrukturisasi utang oleh lessor. dtf, wsp
Utang Merpati
Pertamina Rp 550 miliar.
Garuda Rp 330 miliar
Armada Merpati per 1 Januari 2011
• 1 Boeing 737-500
• 2 Boeing 737-400 (Merpati akan menerima 6 Boeing 737-400 bekas Garuda)
• 1 Boeing 737-200
• 7 Boeing 737-300 (Merpati akan menerima 4 Boeing 737-300 bekas Indonesia AirAsia)
• 13 Xian MA60 (2 pesawat baru mengalami kecelakaan)
• 2 Fokker-100 (PK-MJC,PK-MJD)
• 10 CASA C 212
• 8 DHC-6 (akan digantikan oleh N-219) (Surabaya Post Online, Tue, 2012-01-10 12:14) http://infopenerbangan.com/12/01/10/merpati-dideadline-setahun
>Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang jasa penerbangan, PT Merpati Nusantara Airlines (Persero), berencana menambah pesawat tipe Boeing 737 seri klasik pada tahun ini. “Kami akan menambah sekitar tujuh pesawat tersebut pada tahun ini,” kata Direktur Utama Merpati Sardjono Jhony Tjitrokusumo, , Kamis (7/4).Sebelumnya, Kementerian Perhubungan RI meminta sejumlah maskapai penerbangan memeriksa kondisi pesawat Boeing 737 seri klasik yang dioperasikan. Instruksi tersebut muncul pasca terjadinya retakan pada atap pesawat tipe tersebut milik maskapai Southwest Airlines beberapa waktu lalu. Keretakan tersebut diduga dipicu oleh tekanan udara di kabin setelah ribuan kali lepas landas.
Insiden tersebut mendorong Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) meminta pemeriksaan pada pesawat tersebut. Pengumuman dari FAA tersebut berlaku bagi 175 pesawat di seluruh dunia, termasuk 80 pesawat yang berbasis di Amerika Serikat.
Walau ada permasalahan tersebut, Merpati belum berencana menunda penambahan pesawat. Menurut Jhony, kondisi pesawat tergantung pada perawatan yang dilakukan masing-masing maskapai. “Dilihat juga pesawat tersebut buatan tahun berapa. Apakah mereka juga sudah melakukan pemeriksaan rutin, dan lainnya,” kata Jhony.
Menurutnya, Indonesia memiliki regulasi jelas bagi maskapai yang mau melakukan pengadaan pesawat. Pesawat yang sudah berumur di atas 20 tahun tidak boleh dimasukkan ke Indonesia. Jika usia pesawat belum sampai 20 tahun, maka boleh dimasukkan dan dipakai hingga berusia 35 tahun.
Sementara, pesawat yang rencananya didatangkan Merpati rata-rata buatan tahun 1995, dan tergolong pesawat berumur muda di dunia penerbangan. Pesawat tersebut bertipe Boeing 737 Classic Series (300/400/500) dan diperoleh Merpati melalui sewa.
Pasca keluarnya instruksi dari Kementerian Perhubungan, Merpati juga langsung melakukan pemeriksaan terhadap pesawat Boeing 737 yang dimiliki perusahaan. Hingga saat ini, tercatat ada 11 pesawat Boeing 737 seri klasik yang dimiliki Merpati. Sebanyak 9 pesawat dioperasikan, dan 2 pesawat sedang 'grounded'. “Saat ini, beberapa pesawat sudah dilakukan pemeriksaan dan kami belum menemukan kerusakan,” kata Jhony.